Kategori Artikel

Jumat, 08 Mei 2015

Siapa saja yang bertawakkal kepada Alloh akan Alloh bukakan Rizki untuknya dari jalan yang tak disangka-sangka....

Alkisah....
 Pada tahun 2003 lalu, seorang pedagang bubur ayam di semarang, Jawa Tengah, ingin sekali memberangkatkan ibunya pergi menunaikan ibadah haji karena tak sanggup membayar pajak, mobil itu ia jual kepada seorang hartawan. . Demi mewujudkan niat tersebut, ia membuka rekening khusus untuk tabungan haji. Tapi, setelah dua tahun menabung, uang yang terkumpul baru mencapai Rp.5 juta, padahal tarif ONH waktu itu sekitar Rp.25 juta. Karena memang berniat baik, dan gemar membagikan bubur ayam kepada fakir miskin, Allah berkehendak menolongnya. Tak lama kemudian, tak disangka-sangka, ia memenangkan program undian berhadiah mobil mewah seharga hampir Rp.500 juta di Bank Mandiri tempat ia menabung. Ajaib, mobil tersebut di beli dengan harga setengah miliar rupiah. Berarti Allah melipatgandakan tabungannya hingga 100 kali lipat. Walhasil, bukan hanya sang ibu tercinta yang pergi haji, si tukang bubur beserta istrinya pun berziarah ke Tanah Suci. Dan pulangnya menjadi tukang bubur yang kaya raya.

Sabtu, 21 Februari 2015

Berkah Sedekah Buah Delima


Sahabat Ali bin Abi Thalib sangat dikenal sebagai ahli sedekah.
Pada suatu hari dia pernah memberi setengah buah delima kepada orang miskin.
Tidak lama kemudian Allah Ta'ala mengganti sedekah itu menjadi sepuluh kali lipat.

Dikisahkan Ka'ab bin Akhbar
Ketika Fatimah binti Rasulullah sedang sakit, dia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
"Wahai istriku, engkau ingin buah apa?" tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
"Suamiku, aku ingin buah delima," jawab Fatimah.
Ali terdiam sejenak, sebab dia merasa tidak memiliki uang sesen pun untuk membeli buah delima. Ali ini memang menantu dari Rasulullah, namun kehidupannya sangat sederhana.
Kemudian Ali berusaha mencari pinjaman wang satu dirham dan setelah mendapatkan pinjaman, dia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.

Bersedekah...
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
"Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanya Ali.
"Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima," jawab orang sakit itu.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
"Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah," katanya dalam hati.
Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT,
"Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya."
(QS. Ad Dhuha:10).

Kemudian Ali memutuskan untuk membelah buah delima itu menjadi dua bagian. Setengahnya untuk istrinya dan setengahnya lagi untuk orang sakit itu.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Setelah mendengar penuturan suaminya, Fatimah merangkul serta mendekap suaminya.
"Demi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu," kata Fatimah.

Mendapat Ganti....
Dengan wajah yang cerah, Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.
Dan tak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu.
"Siapakah Tuan?" tanya Ali.
"Aku Salman Al Farisi," jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup dan diletakkan di depan Ali.
Dari manakah nampan ini, wahai Salamn?" tanya Ali lagi.
"Dari Allah Ta'ala untukmu melalui perantaraan Rasulullah," jawab Salman.
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat di dalamnya sembilan biji buah delima.
Tetapi Ali langsung berkata:
"Hai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya sepuluh,".
Kemudian Ali membacakan firman Allah Ta'ala,
"Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali lipat amalnya(balasnya)."
(QS. Al An'am).

Salman pun langsung tertawa sambil mengembalikan sebiji delima yang masih di tangannya.
"Wahai Ali, Demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekedar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan tadi," ucap Salman yang lantas mohon izin pulang.
Begitulah, janji Allah selalu akan ditepati.
 #Sharing_is_caring

Selasa, 30 Desember 2014

Abdurrahman Bin Auf (Sahabat Yang Sangat Dermawan)



 Salah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat rekomendasi masuk surga adalah `Abdurrahmân bin `Auf bin `Abdi `Auf bin `Abdil Hârits Bin Zahrah bin Kilâb bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. Dia juga salah seorang dari enam orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang ahli syura. Dia dilahirkan kira-kira sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya. Saat masih jahilillah, ia bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama `Abdurrahmân oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.


`Abdurrahmân bin `Auf adalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah Islam, berikut ini adalah sebagian kisahnya:


`Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahâtul Mukminin (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Al-Miswar berkata: “Aku mengantarkan sebagian dari dinar-dinar itu kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma. Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan sebagian dinar-dinar itu." Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: "Siapa yang telah mengirim ini?" Aku menjawab: "`Abdurrahmân bin Auf". Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata lagi: "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada `Abdurrahmân bin Auf dengan minuman surga”


Dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan (sesuatu) kepada sekelompok Sahabat Radhiyallahu anhum yang di sana terdapat `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu ; namun beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberikan apa pun kepadanya. Kemudian `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat ada suatu keburukan padaku”. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keluhan `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: ‘Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.”


Keutamaan-Keutamaan `Abdurrahmân bin Auf di antaranya:
`Abdurrahmân bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan menginfakkanya di jalan Allah Azza wa Jalla , namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan : “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami pun tidak bisa sabar”


Suatu hari `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu diberi makanan, padahal dia sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat). Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.”


Senada dengan kisah di atas, Naufal bin al-Hudzali berkata, “ Dahulu `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis. Kami bertanya, “ Wahai Abu Muhammad (panggilan `Abdurrahmân), apa yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.


`Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Umar bin Kaththâb Radhiyallahu anhu pergi ke Syam. Ketika sampai Sarghin (nama sebuah desa di batas Syam setelah Hijâz), ia berjumpa dengan penduduk al-Ajnad yaitu Abu Ubâdah dan para sahabatnya. Mereka memberitahu bahwa wabah penyakit telah berjangkit di Syam. Umar Radhiyallahu anhu berkata : ‘Panggilkan aku para Muhajirin yang awal (berhijrah)!’ Aku (`Abdullâh bin Abbâs-red) pun memanggil mereka. Umar Radhiyallahu anhu memberitahu dan meminta pendapat mereka tentang wabah tersebut. Kemudian mereka berselisih, sebagian mengatakan : “Engkau telah keluar untuk suatu tujuan. Menurut pendapat kami, engkau jangan mundur." Sedangkan sebagian lain mengatakan : “Engkau bersama banyak orang dan bersama para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami berpendapat agar tidak membiarkan mereka terkena wabah." Umar Radhiyallahu anhu berkata lagi : “Panggilkan para Anshar untukku”. Akupun memanggil mereka. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu meminta pendapat kepada mereka dan mereka sama dengan pendapat para kaum Muhajirin yaitu mereka juga berbeda pendapat. Lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata: “Panggilkan orang-orang tua Quraisy dari orang yang hijrah ketika fathu Mekah, yang berada di sini." Akupun memanggil mereka dan tidak ada seorangpun yang berselisih. Mereka mengatakan, “Pendapat kami, sebaiknya kamu membawa kembali orang-orang dan tidak membiarkan mereka terkena wabah." Kemudian Umar Radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang, “Sebaiknya kita kembali." Dan merekapun setuju dengannya. Abu Ubaidah bin Jarrâh Radhiyallahu anhu mengatakan, “Apa kita berusaha berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla ?" Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Seandainya selainmu mengucapkan hal itu, wahai Abu Ubaidah. Ya, kami berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla menuju takdir Allah Azza wa Jalla yang lain. Kemudian datanglah `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu dan mengatakan: "Dalam hal ini, aku memiliki ilmunya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ


Jika kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan apabila wabah terjadi di suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar/lari darinya. [HR. Bukhâri no. 5398]


Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , `Abdurrahmân bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan.


Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang.


Imam Bukhâri menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa `Abdurrahmân pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti perang badar dengan 400 dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.
Dia meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur di pemakaman baqi` dan `Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu ikut menyalatkannya.
Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua. Wallâhu a`lam

Selasa, 04 November 2014

Dahsyatnya Keajaiban Sedekah....





Kisah ini menceritakan keajaiban sedekah, dia mempunyai banyak hutang dan dia dapat menyeleseikan hutang itu dan lunas hanya dengan sedekah..

Yuk bagi sahabat yang masih punya hutang atau numpuk dengan hutang... kita selesaikan dan lunasi dengan sedekah...

www.fosa-indonesia.org

Minggu, 07 September 2014

Seorang Laki-laki yang Suka Bersedekah





Foto: KEAJAIBAN....

Sebuah kisah yang menakjubkan di sebuah kampung bernama Hamra. Dikampung tersebut ada seorang lelaki dari Zar’ah yang dikenal sebagai seorang yang taat beragama.

Ia membangun mesjid untuk penduduk Hamra, dan ia selalu datang kemesjid tersebut setiap malam hari dan membawa lentera dan makan malam. Jika ia mendapatkan orang yang, ia memberinya makanan, dan jika tidak ada orang, ia memakannya. Hal tersebut terus berlanjut.

Suatu hari, sumur masjid airnya berkurang sehingga orang-orang kesulitan untuk berwudhu. Akhirnya ia bersama anak-anaknya menggali kembali sumur tersebut, agar airnya kembali banyak.

Ditengah pekerjaannya, tiba-tiba saja ember kayu yang mengangkut tanah tersebut terlepas, yang mengakibatkan tanah sumur longsor dan menimpa lelaki tersebut. Ketika itu ia masih berada di dalam sumur. Sanak saudaranya sudah berputus asa, dan menganggap sumur itu sebagai kuburannya.

Didalam sumur, tanpa disengaja, alat-alat yang dipakai untuk menggali itu, justru menjadi penyelamat, yaitu dengan menahan tanah serta bebatuan yang menimpanya.

Dalam gelapnya sumur tersebut, terjadi suatu keajaiban. Ia diterangi cahaya, sinarnya seperti lentera yang selalu ia nyalakan di masjid.

Dalam kondisi lapar, ia dihidangkan makanan persis seperti makanan yang selalu ia hidangkan untuk orang-orang yang shalat di masjidnya.

Enam tahun berlalu, anak-anaknya bermaksud untuk memperbarui sumur tersebut agar bisa dipergunakan kembali. Diluar dugaan mereka, ternyata sang ayah, lelaki yang senantiasa bersedekah itu, masih hidup dalam keadaan sehat.

Mereka bertanya kepada sang ayah ihwal kehidupannya selama dalam sumur itu. 
Sang ayah berkata,
 “Selama aku berada di bawah tanah, ada lentera dan makanan mendatangiku, persis seperti yang aku bawa ke masjid.” 
Mereka pun terkagum-kagum akan hal tersebut, dan kisah ini menjadi pelajaran bagi penduduk di kampung Hamra.

==== 
Sahabat Pecinta yatim dan dhu’afa dimanapun berada yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, apa yang mustahil bagi kita, tidak mustahil bagi Alloh.
Cukuplah janji Alloh Ta’ala dan Rasul-NYA sebagi motivasi kita bersedekah.

Saatnya harta kita menjadi penyelamat dirikita sekaligus sebagai sumber kebahagiaan yatim dan dhu'afa bersama :
www.fosa-indonesia.org

Rek. Donasi :
>> Bank BNI cabang Tasikmalaya 
no. rek.0254735322 
An. YAYASAN FOSA INDONESIA 

>> Bank MANDIRI cabang Tasikmalaya 
no. rek. 131-00-1061155-8 
An. YAYASAN FOSA INDONESIA 

>> Bank BJB (BankJabar Banten) 
no. rek.0021564990100 
An. YAYASAN FOSA INDONESIA 

>> Bank BRI Unit Manonjaya Tasikmalaya 
no. rek.4455-01-011626-53-1 
An. Ai Baehaqi  

>> Bank BCA cabang Tasikmalaya 
No. Rek.3210367861 
An. Ai Baehaqi 

Konfirmasi donasi bisa melalui SMS/WhatsApp 082 311 333 334

.


Sebuah kisah yang menakjubkan di sebuah kampung bernama Hamra. Dikampung tersebut ada seorang lelaki dari Zar’ah yang dikenal sebagai seorang yang taat beragama.

Ia membangun mesjid untuk penduduk Hamra, dan ia selalu datang kemesjid tersebut setiap malam hari dan membawa lentera dan makan malam. Jika ia mendapatkan orang yang, ia memberinya makanan, dan jika tidak ada orang, ia memakannya. Hal tersebut terus berlanjut.

Suatu hari, sumur masjid airnya berkurang sehingga orang-orang kesulitan untuk berwudhu. Akhirnya ia bersama anak-anaknya menggali kembali sumur tersebut, agar airnya kembali banyak.

Ditengah pekerjaannya, tiba-tiba saja ember kayu yang mengangkut tanah tersebut terlepas, yang mengakibatkan tanah sumur longsor dan menimpa lelaki tersebut. Ketika itu ia masih berada di dalam sumur. Sanak saudaranya sudah berputus asa, dan menganggap sumur itu sebagai kuburannya.

Didalam sumur, tanpa disengaja, alat-alat yang dipakai untuk menggali itu, justru menjadi penyelamat, yaitu dengan menahan tanah serta bebatuan yang menimpanya.

Dalam gelapnya sumur tersebut, terjadi suatu keajaiban. Ia diterangi cahaya, sinarnya seperti lentera yang selalu ia nyalakan di masjid.

Dalam kondisi lapar, ia dihidangkan makanan persis seperti makanan yang selalu ia hidangkan untuk orang-orang yang shalat di masjidnya.

Enam tahun berlalu, anak-anaknya bermaksud untuk memperbarui sumur tersebut agar bisa dipergunakan kembali. Diluar dugaan mereka, ternyata sang ayah, lelaki yang senantiasa bersedekah itu, masih hidup dalam keadaan sehat.

Mereka bertanya kepada sang ayah ihwal kehidupannya selama dalam sumur itu.
Sang ayah berkata,
“Selama aku berada di bawah tanah, ada lentera dan makanan mendatangiku, persis seperti yang aku bawa ke masjid.”
Mereka pun terkagum-kagum akan hal tersebut, dan kisah ini menjadi pelajaran bagi penduduk di kampung Hamra.

====
Sahabat Pecinta yatim dan dhu’afa dimanapun berada yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, apa yang mustahil bagi kita, tidak mustahil bagi Alloh.
Cukuplah janji Alloh Ta’ala dan Rasul-NYA sebagi motivasi kita bersedekah.

Saatnya harta kita menjadi penyelamat dirikita sekaligus sebagai sumber kebahagiaan yatim dan dhu'afa bersama :
www.fosa-indonesia.org

Keutamaan Menyembunyikan Sedekah...

"jika kamu Menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka Menyembunyikan itu lebih baik bagimu….”
[al-Baqoroh : 271]

Imam Al-Ghazali memaparkan dalam kitabnya Tarthibu Al-Afwah bahwa sebagian kaum muslimin sudah sampai pada keutamaan sedekah, mereka berusaha sekuat tenaga agar orang yang diberi sedekah tidak mengetahui siapa yang memberinya.

Sebagian dari mereka memberikannya kepada pengemis yang buta, ada pula yang menyimpannya di jalan-jalan yang biasanya para pengemis berjalan, atau ditempat-tempat pengemis duduk sebelum mereka datang, sebagian lagi ada yang melemparkannya dibaju pengemis ketika ia sedang tidur, ada pula yang bersedekah melalui tangan orang lain agar ia tidak diketahui, ia memohon agar namanya tidak diberi tahu atau disebutkan kepada orang lain.

Semua upaya ini akan menyampaikan kita pada padamnya amarah Alloh dan menjaga kita dari sifat riya’ dan keinginan untuk didengar oleh orang lain.

Abdul Aziz bin Abi Rawad berkata,
“Dikatakan, bahwa tiga hal yang menjadi harta simpanan disurga, menyembunyikan rasa sakit, menyembunyikan sedekah dan menyembunyikan musibah-musibah.”

====
Saatnya harta kita menjadi sumber kebahagiaan hakiki kita,
Saatnya harta kita menjadi terdepan dalam membantu sesama,
Saatnya harta kita menjadi bekal akhirat dan bukan menjadi beban akhirat

Satukan langkah, bulatkan tekad
Ayo kita gabung bersama :
www.fosa-indonesia.org
WhatsApp 082 311 333 334

Minggu, 22 Juni 2014